5 Kiat Tangani Krisis Talenta Era Digital

    5 kiat picture

    DuniaFintech.com – Jakarta, 20 Juni 2019 – Dalam menanggapi urgensi krisis kelangkaan akan talenta teknologi di era digital ini, Robert Walters menerbitkan buku panduan teknologi 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi, yang menggabungkan pandangan para pemimpin dalam dunia bisnis, pakar dalam bidang SDM, para manajer perekrutan dan profesional teknologi tentang bagaimana cara mempertahankan talenta teknologi agar dapat menciptakan strategi rekrutmen dan retensi yang inovatif untuk mendukung perubahan kebutuhan bisnis di era digital 4.0 yang kompetitif.

    Baca juga : Inilah Bagaimana Fintech Mengubah Industri Keuangan Beberapa Tahun ke Depan

    Diluncurkannya buku panduan 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi ini juga berdasarkan survei yang dilakukan pada bulan April 2019 oleh Robert Walters kepada hampir 400 teknologi profesional dan manajer perekrutan di seluruh Asia Tenggara, ditemukan bahwa krisis akan talenta teknologi menjadi sebuah permasalahan global dengan tingkat kesulitan tinggi.

    Melalui survei ini, para manajer perekrutan talenta teknologi menilai tingkat kesulitan untuk mendapatkan talenta teknologi dengan skor rata – rata 7 dari skala 1 – 10.  Dengan 68% responden mengaku membutuhkan waktu 3 bulan atau lebih untuk mencari seorang profesional teknologi yang dapat mengisi kekosongan dalam tim mereka.  70% manager menyatakan bahwa  telah merasakan dampak negatif yang mempengaruhi produktivitas dan inovasi bisnis karena adanya krisis akan talenta teknologi yang terjadi ini. Hal tersebut pun akan diungkap secara gamblang dalam buku panduan 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi tersebut.

    Antonio Mazza, Manajer teknologi dari Robert Walters Indonesia menjelaskan, “Pengembangan keterampilan dan kemampuan talenta teknologi saat ini belum cukup sejalan dengan kecepatan teknologi yang berkembang pesat, sehingga menyebabkan kelangkaan talenta teknologi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Panduan (5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi) dari Robert Walters ini memberikan wawasan tentang bagaimana perusahaan dapat mengatasi rintangan tersebut dan dapat diaplikasikan pada semua perusahaan dalam mencari talenta potensial yang diingiinkanya. Perusahaan yang berpikiran maju yaitu perusahan yang bergerak cepat dan berada satu langkah di depan dengan berinvestasi, melatih, dan mendukung talenta pada posisi yang lebih baik untuk mengamankan dan mempertahankan mereka.”

    Strategi dalam menangani krisis kelangkaan talenta teknologi 

    Dengan persaingan yang begitu ketat, perusahaan tidak dapat lagi melakukan perekrutan hanya di saat pekerjaan sedang lowong.  Dakam buku 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi tersebut dijelaskan bahwa perusahaan harus lebih proaktif, membuang gagasan konvensional dengan memperbarui proses rekrutmen. Perusahaan di desak untuk memulai mencari talenta teknologi lebih awal dan mendidiknya melalui usaha membangun brand awareness perusahaan serta di saat bersamaan menyiapkan ‘tabungan’ atau pipeline dari talenta berkualitas dengan motivasi yang tinggi.

    Untuk melengkapi metode tersebut di atas, perusahaan dapat mempertimbangkan jalan non-tradisional yakni menjangkau talenta yang belum terjangkau sebelumnya, seperti mencari talenta di luar negeri. Hal ini, merupakan hal yang relevan di Asia Tenggara. Atau cara lainnya adalah mulai menjangkau talenta teknologi dari industri lain. Misalnya, alih – alih mencari seseorang dengan latar belakang dalam lembaga keuangan, perusahaan juga dapat mempertimbangkan talenta dari industri perdagangan untuk memperluas pilihan mereka. Sesuai dengan  peninjauan dalam proses perekrutan untuk mempercepat dan investasi usaha dalam menarik para kandidat, dapat membantu pencari kerja merasa lebih bernilai dan dihargai.

    Menjadi perusahaan pertama yang menawarkan pekerjaan kepada talenta yang sebelumnya belum terjangkau adalah keunggulan kompetitif. Pencari kerja akan merasa dihargai dan akan membandingkan setiap penawaran lainnya dengan penawaran pertama yang didapatkannya. Inilah sebabnya mengapa perusahaan melakukan segala upaya untuk mempersingkat proses perekrutan mereka.

    Melalui hasil survey ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah (57%) profesional teknologi yang diwawancarai akan setuju jika mendapatkan penawaran paket benefit yang tepat meskipun kenaikannya hanya sedikit. Tiga pertimbangan teratas yang disukai oleh responden ketika memilih perusahaan adalah fleksibilitas waktu kerja (58%), asuransi keluarga (49%) dan opsi kerja jarak jauh (46%).

    Budaya belajar yang fokus pada pengembangan tim

    Poin yang dijelaskan dalam buku 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi yakni dalam mengidentifikasi kandidat potensial dan mengembangkan budaya belajar yang kuat di dalam sebuah perusahaan. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan potensi talenta. Perusahaan didorong untuk mempertimbangkan kandidat yang menunjukkan potensinya, seperti bakat yang baik untuk belajar dengan cepat dan bekerja sama dalam tim, merasa nyaman dalam menggunakan teknologi untuk mencari solusi, dan memiliki pengalaman atau keterampilan yang berguna bagi tim.

    Menyediakan sumber daya dan peluang untuk membantu talenta teknologi berkembang akan dapat membuat mereka tetap termotivasi, seperti belajar tentang berbagai bidang teknologi, dan mempelajari keterampilan yang kurang mereka kuasai. Dikutip dari para profesional teknologi yang telah disurvei, pelatihan mengenai keterampilan teknis dan soft-skill, keterlibatan proyek lintas-departemen, dan peluang rotasi pekerjaan adalah salah satu peluang pelatihan yang paling menarik bagi mereka.

    Budaya belajar yang kuat di mana talenta didorong untuk belajar dengan berbagi dan mengajarkan sesama akan menciptakan lingkungan yang penuh energi di mana karyawan merasa diakui dan dihargai.”, tambah Antonio.

    Memicu perubahan dari atas

    Poin lain yang diungkapkan dalam buku 5 Kiat Dalam Menangani Krisis Talenta Teknologi adalah untuk memungkinkan perubahan, yang mana para pemimpin perlu memberikan contoh untuk menginspirasi, memotivasi dan mempertahankan talenta teknologi. Para pemimpin bisnis yang percaya pada nilai dari teknologi dalam mempercepat bisnis, menerapkannya ke dalam budaya dan arah perusahaan dan akhirnya akan menciptakan keselarasan di dalam perusahaannya. Dalam merekrut kandidat manajemen untuk memimpin tim, perusahaan didorong untuk melihat melampaui kemampuan teknis seorang kandidat. Ia haruslah memiliki pemahaman yang baik tentang lanskap teknologi saat ini dan keterampilan dalam mengelola pemangku kepentingan yang kuat.

    Tentang Robert Walters

    Robert Walters adalah salah satu konsultan spesialis perekrutan profesional terkemuka di dunia dan berfokus untuk menempatkan profesional berkaliber tinggi ke posisi permanen, kontrak dan sementara di semua tingkat senioritas. Pelaku bisnis Indonesia merekrut seluruh akuntansi dan keuangan, perbankan dan jasa keuangan, hukum, sales & marketing, SDM, TI dan manajemen umum. Didirikan pada tahun 1985, grup ini telah membangun kehadiran global yang mencakup  30 negara dan wilayah.

    Baca juga : Tom Lee Fundstrat: Bitcoin dengan Mudah Mencapai Nilai Tertinggi Baru

    Komentar