Akselerator Grab Akan Bantu Startup Agritech di Asia Tenggara

    akselerator Grab picture
    Inline Adv

    DuniaFintech.com – Grab yang berbasis di Singapura baru-baru ini memilih 10 startup tahap awal untuk bergabung dengan program akselerator Grab Ventures Velocity keduanya, yang berfokus pada perusahaan yang membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), startup Agritech atau petani di negara Asia Tenggara.

    Startup yang terlibat dalam pemberdayaan UMKM, termasuk MyCash Online, PergiUmroh, Porter, Qoala dan Tamasia sedangkan lima sisanya, Treedots, GLife, Eragano, Sayurbox dan Tanihub adalah bagian dari industri teknologi pertanian (agritech) yang baru muncul yang berfokus pada petani.

    Tiga dari lima perusahaan agritech yang baru berdiri ialah Eragano, Sayurbox dan Tanihub, yang merupakan perusahaan startup Indonesia sedangkan dua sisanya adalah perusahaan Singapura.

    Baca juga: Menteri Rini: LinkAja Akan Mempermudah Pengiriman Uang Para TKI

    Program Akselerator Grab

    Program Akselerator Grab yang berlangsung selama 16 minggu ini, yang merupakan bagian dari investasi Grab senilai Rp 3 Triliun (US $ 212 juta) di Indonesia, akan memberikan pelatihan bagi bisnis untuk memungkinkan mereka mendapatkan manfaat dari ekosistem perusahaan. Jika perusahaan baru memiliki kinerja yang baik, Grab, perusahaan yang bernilai lebih dari $ 10 Miliar, akan berinvestasi atau bermitra dengan mereka.

    Fokus keberlanjutan pada Agritech menunjukkan kesiapan investor untuk membiayai industri di luar pendanaan tahap awal. Bahkan, TaniHub mengumumkan pada bulan Juni lalu bahwa investor telah menyuntikkan dana sebesar $ 10 juta dari pendanaan Seri A.

    Startup agritech di Indonesia muncul pada tahun 2015 ketika beberapa pemain terkemuka saat ini seperti TaniHub, Sayurbox, LimaKilo, Eragano, Crowde dan iGrow didirikan.

    Tiga perusahaan pemula ini adalah e-marketplace farm-to-table, yang memungkinkan pembeli membeli produk segar langsung dari petani, sementara dua yang terakhir adalah platform pinjaman peer-to-peer (P2P), yang memungkinkan petani mendapatkan modal mudah dan aman.

    Baca Juga: Indonesia Fintech Festival, Ajang Edukasi Fintech kepada Masyarakat 

    Geliat Para Startup Agritech

    Eragano diketahui telah lebih komprehensif dalam penawarannya. Pendiri Eragano, Stephanie Jesselyn, mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa perusahaannya menyediakan e-marketplace farm-to-table, layanan pinjaman, dan toko untuk keperluan pertanian seperti pupuk dan benih (bibit).

    Kepala usaha Grab, Chris Yeo, mengatakan kepada wartawan di Jakarta pada 17 Juni lalu bahwa perusahaan memilih industri agritech karena melihat potensi pasar yang besar dalam meningkatkan sektor pertanian di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.

    Chris Yeo pun mengatakan:

    “Perusahaan baru ini sudah melayani 30.000 petani. Ini adalah titik awal yang sangat baik tetapi kami pikir ada begitu banyak potensi. Lihat saja jumlahnya, ada 35 juta petani di Indonesia.”

    Pernyataa Yeo tersebut menangkap optimisme yang berlaku dari industri agritech meskipun pasar lokal penuh dengan tantangan seperti infrastruktur yang buruk dan literasi digital.

    Indeks kinerja logistik dunia tahun lalu menempatkan Indonesia di peringkat ke-46 dari 160 negara, lebih rendah dari negara tetangga Thailand (ke-32), Vietnam (ke-39) dan Malaysia (ke-41). Dengan demikian, sebagian besar operasi agritech di Indonesia masih berpusat di Jawa, yang menikmati infrastruktur terbaik termasuk jalan, kereta api dan koneksi internet.

    Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi mencatat hanya ada 9% pengusaha kecil yang mampu menggunakan platform e-commerce, termasuk pasar online farm-to-table.

    Salah satu pendiri TaniHub, Pamitra Wineka, mengatakan kemitraan perusahaannya dengan Grab adalah salah satu solusi untuk mengatasi kedua masalah tersebut. E-marketplace bertujuan untuk menangkap pelanggan baru semua pedagang makanan Grab, yang akan memiliki saluran logistik dan literasi yang diperlukan untuk memanfaatkan e-commerce.

    Menurut survei terbaru oleh perusahaan riset Tenggara Strategics, Grab telah mendaftarkan setidaknya 218.000 pedagang makanan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan pada tahun 2018.

    Image by Peter H from Pixabay

    -Syofri Ardiyanto-

    Komentar
    Bottom Adv