Alat Antisipasi Kejahatan Kripto di Jaringan Blockchain

    antisipasi picture

    DuniaFintech.com – Kripto aset seperti Bitcoin, Ethereum dan lain sebagainya memang punya peluang besar untuk memecahkan hambatan keuangan tradisional yang ada. Di sisi lain, terkadang muncul berita kurang menyenangkan. Seperti kejahatan yang meminta tebusan Bitcoin. Alat antisipasi kejahatan tersebut solusinya.

    Menurut sebuah penelitian yang dilakukan awal tahun ini, sekitar seperempat pengguna Bitcoin dan setengah dari transaksi Bitcoin dikaitkan dengan aktivitas terlarang. Sekitar $ 72 miliar aktivitas melanggar hukum per tahun melibatkan Bitcoin, yang dekat dengan skala pasar AS dan Eropa untuk obat-obatan terlarang.

    Baca juga: Pemerintah India Buat Regulasi Kripto Bulan Depan

    Selain itu, sebuah studi 2018 yang dilakukan oleh startup analisis Blockchain, Elliptic, dan Center on Sanctions and Illicit Finance, menemukan peningkatan lima kali lipat dalam jumlah operasi ilegal berskala besar yang menggunakan Blockchain Bitcoin antara 2013 dan 2016. Dengan menganalisis sejarah lebih dari 500.000 bitcoin, organisasi mengidentifikasi 102 entitas kriminal, yang termasuk pasar situs gelap, skema ponzi dan penyerang ransomware/malware.

    Menelusuri Kegiatan Kriminal di Seluruh Jaringan Blockchain Bitcoin

    Yang cukup menarik, banyak mata uang digital yang diperiksa dalam studi yang dilakukan oleh Elliptic dan Pusat tentang Sanksi dan Keuangan Gelap dapat dikaitkan kembali dengan para pelaku. Misalnya, ditemukan bahwa 95% dari semua koin yang dicuci yang dilacak berasal dari sembilan pasar gelap-web, termasuk Silk Road, Silk Road 2.0, Agora dan AlphaBay.

    Dengan memeriksa aktivitas Blockchain secara ketat, perusahaan yang berfokus memerangi kejahatan terkait kripto aset dapat menemukan akun yang tampak seperti milik dompet Bitcoin yang sama dan dikendalikan oleh entitas yang sama. Proses ini dikenal sebagai clustering atau pengelompokan.

    Baca juga: Quadrant Protocol Resmi Diluncurkan!

    Menurut Kyrylo Chykhradze, kepala Bitfury’s Crystal, solusi perangkat lunak yang dirancang untuk melacak aktivitas di jaringan Blockchain Bitcoin dan Bitcoin Cash, Crystal mengumpulkan informasi tentang semua transaksi yang dicatat ke Blockchain untuk menentukan alamat mana yang termasuk dalam entitas yang sama untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya aktivitas kriminal di sana.

    Ketika lembaga keuangan dan penegak hukum mulai menggunakan alat seperti Crystal, perusahaan dan organisasi manapun dapat mulai dengan mudah mendeteksi aktivitas ilegal yang terjadi di seluruh jaringan Blockchain untuk antisipasi kejahatan.

    Misalnya, Grup Bitfury melakukan laporan untuk melacak kembali pergerakan Bitcoin dari pertukaran Zaif yang berbasis di Jepang setelah diretas pada bulan September. Zaif kehilangan $ 60 juta kripto miliknya, termasuk hampir 6.000 bitcoin.

    Menurut analisis yang diselesaikan oleh tim rekayasa Crystal Blockchain Analitik Bitfury, 30% dari Bitcoin yang dicuri masih berada di alamat yang terkait dengan peretas. 24% lainnya dikirim ke Binance untuk ditukarkan/ditarik. Sisa 46% dibagi menjadi sejumlah kecil dan dikirim ke berbagai alamat.

    Alamat dengan pemilik yang tidak dikenal masih dalam pengawasan menggunakan solusi perangkat lunak Crystal Blockchain. Dan karena Zaif berbagi waktu yang tepat dari akses yang tidak sah, tim teknik Crystal dapat menentukan transaksi mana yang menjadi milik peretas.

    Jika teknologi ini diterapkan di berbagai perusahaan dan instansi yang menggunakan Blockchain, kita bisa antisipasi atau menekan hingga tandas peluang terjadinya kejahatan di jaringan Blockchain. Ketika Blockchain terbukti aman dan bebas dari segala aktivitas kriminal, penggunaannya akan semakin luas dan bukan tidak mungkin seluruh negara di dunia akan bersepakat menetapkan regulasi resmi untuk kripto dan Blockchain.

    Source: forbes.com

    Written by: Dita SafitriTop of Form

     

    Komentar