Apakah Fintech Aman? Bagaimana Penetrasi Indonesia?

    Apakah Fintech Aman picture

    DuniaFintech.com – Penetrasi Fintech menjamur di dunia. Bahkan sampai ke Afrika, ribuan perusahaan fintech berdiri. Banyak perusahaan mengakui bisa menyelesaikan berbagai masalah keuangan. Tapi di sisi lain masih banyak orang-orang yang belum memiliki kenyamanan dalam perbankan. Lalu timbul pertanyaan apakah fintech aman?

    Dengan beragam inovasi yang muncul, risiko juga tentu datang menyertainya. Terkait pertanyaan apakah fintech aman? Muncul pertanyaan lainnya, apakah gerbang pembayaran baru yang digunakan oleh situs belanja langganan Anda terjamin? Kalau Anda memasukkan nomor kartu kredit Anda, apakah itu akan aman?

    Baca juga: Perkembangan Bitcoin dan Blockchain di Republik Mali

    Kita ambil contoh i-Pay yang ada di Afrika. Layanan ini menyediakan kemudahan dalam pembayaran dengan biaya rendah. Namun masalahnya, untuk mengaktifkan layanan, pengguna harus mempercayai perusahaan sepenuhnya termasuk memberikan username dan password yang mereka gunakan. Pendek kata, i-Pay harus memegang akses penuh ke akun bank Anda. Sekilas, terdengar menyeramkan bukan?

    Untunglah dalam kasus i-Pay, mereka memiliki backing yang kuat dari Investec dan Nedbank. Kepala petugas inovasi teknologi, Mitchan Adams sangat ingin menghindari reputasi kecerobohan yang akan membahayakan pertumbuhan di masa depan. Tetapi masalahnya tetap ada: inovator tidak ingin berada dalam posisi di mana mereka dapat membahayakan pelanggan mereka, tetapi cara perbankan online saat ini tidak memberi mereka pilihan.

    Pada dasarnya, fintech memang memberikan banyak kemudahan. Namun risiko-risiko semacam ini tetap menjadi PR besar bagi penyelenggara. Karena bagaimanapun, kepercayaan pelanggan adalah kunci untuk bisa bertahan di dalam industri.

    Penetrasi Fintech di Indonesia

    Tidak ada yang bisa menyangkal jika industri teknologi finansial kita juga sudah berkobar. Bahkan Menteri Ekonomi Sri Mulyani mengingatkan para penggerak industri perbankan konvensional agar mampu bersaing dengan pemain fintech agar tidak punah.

    Baca juga: Upaya Asosiasi Cegah Fintech Nakal Pakai Blockchain

    Industri fintech, terutama sektor pembiayaan adalah salah satu bidang yang sedang tumbuhpesat. Tahun lalu, pertumbuhan penyaluran pembiayaan fintech mencapai 800%. Kekuatan pertumbuhan fintech di Indonesia masih ditambah dengan perilaku masyarakat yang semakin sering menggunakan pembayaran online.

    Di bidang inklusi keuangan misalnya, ada masalah peminjaman yang sampai saat ini menjadi masalah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), UMKM nasional membutuhkan setidaknya dana sebesar Rp1.700 triliun per tahun. Angka yang dapat dipenuhi oleh lembaga perbankan konvensional hanya Rp700 triliun saja. Lantas dari mana dana didapatkan untuk menutupi kekurangan Rp1.000 triliun lagi? Jawabannya satu: fintech.

    P2P lending sebagai salah satu sektor fintech berusaha mengambil peran untuk menutupi kekurangan itu. Sebanyak Rp1,6 triliun berhasil didanai oleh perusahaan-perusahaan fintech. Asosiasi Fintech Indonesia mencatat lonjakan pertumbuhan dari 6% sepanjang 2011-2012, menjadi 9% di 2013- 2014, kemudian melambung menjadi 78% antara tahun 2015-2016.

    Angka ini diprediksi terus bertambah sejalan dengan masih besarnya potensi pasar Indonesia. Apalagi pertumbuhan internet di Indonesia sangat cepat. Pada 2020 diperkirakan akan mencapai 145 juta pengguna atau 53% dari jumlah penduduk. Sekitar 73% dari total penggunaan internet mengaksesnya dengan smartphone.

    Apakah fintech aman? Jawabannya bergantung dari industri fintech dalam memberikan kepercayaan dan perlindungan tinggi kepada pelanggan untuk setiap layanan yang ditawarkan. 

    -Dita Safitri-

     

     

    Komentar