Perdagangan Manusia Bisa Diatasi dengan Teknologi Blockchain, Benarkah?

    Perdagangan Manusia picture
    Inline Adv

    DuniaFintech.com – Kerajaan Inggris dan Duta Besar AS menyatakan bahwa Blockchain dapat membantu memerangi perdagangan manusia.

    Princess Eugenie dari Inggris dan John Richmond, Duta Besar Amerika Serikat anti-perdagangan manusia, baru-baru ini mendukung penggunaan teknologi baru seperti aplikasi telepon dan blockchain untuk mengatasi perdagangan manusia, dilaporkan Reuters pada 8 April.

    Baca juga

    Pada sebuah konferensi di Wina, Austria, yang diselenggarakan oleh Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE), Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, para ahli mencatat bahwa peningkatan penggunaan internet telah memperluas kemampuan para pedagang manusia untuk mengeksploitasi target potensial.

    Namun, Puteri Eugenie (cucu Ratu Elizabeth), dilaporkan mencatat bahwa teknologi juga dapat membantu memerangi perdagangan manusia. Eugenie, yang mendirikan Anti-Slavery Collective, Kolektif Anti-Perbudakan di  Britain pada 2017, mengatakan:

    “Saya telah belajar tentang bagaimana blockchain memiliki dampak besar pada manajemen rantai pasokan, dan bagaimana aplikasi di Britain dapat membantu publik melaporkan perbudakan modern di pencucian mobil.”

    Eugenie merujuk pada inisiatif oleh Coca Cola dan Departemen Luar Negeri AS, dan Aplikasi Cuci Mobil Aman, yang pertama dimulai pada Maret 2018, dan bertujuan untuk menggunakan teknologi blockchain untuk membuat pekerja aman. Kemitraan ini bertujuan untuk mengatasi masalah kerja paksa dengan menggunakan validasi blockchain dan kemampuan notaris digital untuk membuat registri yang aman bagi pekerja dan kontrak mereka.

    Baca juga

    Safe Car Wash App baru-baru ini menemukan hampir 1.000 kasus kerja paksa di pencucian mobil di U.K. Aplikasi ini diluncurkan oleh Gereja England dan Gereja Katolik di England dan Wales Juni lalu, dan memungkinkan pengguna untuk mengetahui lokasi mereka dan memasukkan berbagai indikator adanya pekerja paksa, seperti apakah perusahaan hanya menerima uang tunai, atau pekerja tampaknya ketakutan.

    Mengutip Indeks Perbudakan Global oleh kelompok hak asasi manusia Walk Free Foundation, Reuters melaporkan bahwa ada 136.000 pekerja budak di U.K, yang 10 kali lebih tinggi dari tahun 2013.

    Duta Besar Anti-perdagangan manusia, Richmond, meski mencatat bahwa teknologi itu sendiri mungkin tidak dapat menghentikan perdagangan manusia. Namun Richmond mencatat:

    “Tetapi ada alat teknologi yang dapat membantu orang untuk melakukan pekerjaan mereka dengan lebih baik. Ini adalah pekerjaan lambat, melelahkan, hari demi hari, yang dapat membantu membuat perbedaan. ”

    Pada Desember 2017,  dikabarkan pula bahwa bank-bank besar seperti BNP Paribas dan Barclays bersama-sama memulai sebuah proyek dengan skala besar. Dimana proyek tersebut akan menilai potensi teknologi Blockchain guna melacak rantai pasokan terhadap pembiayaan sumber yang berkelanjutan.

    -Sintha Rosse-

    Komentar
    Bottom Adv