CERDAS BERINVESTASI SAHAM      

January 29, 2018

DuniaFintech.com – Beli, jual, atau hold. Itulah tiga kata yang sering terdengar bila berbicara mengenai investasi saham. Tak salah karena istilah trading ini dianggap dapat memberikan keuntungan lebih cepat. Bagaimana dengan faktanya?

Seorang Indonesia Value Investor Rivan Kurniawan berpandangan lain. Memang, metode trading dianggap dapat memberikan keuntungan lebih cepat. Sayangnya, trading memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Hal ini karena trading hanya mengedepankan analisa teknikal, seperti membaca trendline chart dan volume perdagangan saham.

Rivan sendiri mengutamakan metode value investing. Metode ini memperhatikan faktor fundamental perusahaan, seperti kinerja keuangan. Agar masyarakat lebih memahami metode value investing, Rivan menggelar Workshop Value Investing di Hotel Amaris, Tebet, Jakarta, Sabtu (27/1/2018). Sebagai media partner,  berkesempatan menghadiri workshop yang berjalan santai, namun informatif tersebut.

Baca juga: menggali-potensi-investasi-melalui-platform-pertanian

Workshop Value Investing terbagi atas empat sesi, yakni Understanding Financial Statement, Find Hidden Profit with Value Investing, Stock Valuation for Unlimited Profit, dan Money Management in Value Investing. Workshop ini membahas sejumlah isu penting dalam investasi saham, misalnya menemukan saham dengan fundamental bagus pada harga diskon, waktu yang tepat untuk membeli dan menjual saham, menghitung valuasi saham untuk mengetahui intrinsic value atau harga wajarnya, membaca laporan keuangan agar mengetahui apakah suatu saham layak dibeli atau tidak dan lain-lain.

Dalam workshop ini, Rivan juga mengemukakan beberapa hal penting dalam menganalisa income statement antara lain jangan terpaku pada laba bersih sebuah perusahaan.

Laba bersih bisa didapat dari menjual aset perusahaan. Yang bagus adalah laba bersih naik dan pendapatan perusahaan juga naik,” jelasnya.

Di samping income statement, calon investor juga patut memahami laporan arus kas (statement of cash flow). Bila income statement untuk mengetahui sebuah perusahaan profit atau tidak, maka laporan arus kas untuk mengetahui uang yang masuk dan keluar.

Baca juga: pelaku-e-commerce-akan-terkena-pajak-pembahasan-lengkapnya-ada-di-sini/

Pada laporan arus kas, dikenal istilah operating cash flow, investing cash flow, dan financing cash flow.

Hati-hati bila menemukan catatan investing cash flow positif karena perusahaan menjual aset yang bisa jadi karena kesulitan keuangan atau manajemen memandang bisnisnya tidak berprospek cerah,” terang Rivan.

Hal penting lainnya ialah dari mana sebuah perusahaan mendapatkan pemasukan.

Pahami dari mana pendapatan terbesar bisnis sebuah perusahaan,” katanya.

Rivan juga menekankan, perusahaan yang sehat dapat dilihat bila adanya kenaikan pendapatan perusahaan itu sendiri yang lebih besar daripada kenaikan pengeluaran (expense).

Oleh sebab itu, calon investor perlu untuk menganalisa laporan keuangan perusahaan secara year-on-year (YOY). Meski begitu, laporan keuangan perusahaan secara quarter-on-quarter (QOQ) juga perlu diteliti.

Ini penting untuk mengetahui story sebuah perusahaan. Apalagi, jarang sekali ada perusahaan yang memiliki saham stabil di negara berkembang, seperti Indonesia,” tutur Rivan.

Terkait hutang, Rivan berpendapat, bisa berdampak positif atau negatif, bak pisau bermata dua. Di satu sisi, hutang bisa mendorong sebuah perusahaan untuk mencapai tujuannya. Di sisi lain, hutang dapat ‘membunuh’ perusahaan jika ternyata tidak bisa dikelola dengan baik.

Kenaikan aset yang baik berdasarkan ekuitas, bukan hutangnya,” Rivan memberi tips untuk mengetahui sehat atau tidaknya keuangan sebuah perusahaan.

Tambah lagi, dari sisi hukum, yang diprioritaskan adalah pembayaran hutang bila terjadi suatu masalah di sebuah perusahaan.

Tips berikutnya yang Rivan bagikan kepada para peserta adalah mengenai bad sign.

Profitable belum tentu selalu baik bila ada cash flow negatif. Ini bad sign dan sudah ada contohnya di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: idec-selenggarakan-seminar-masa-depan-fintech/

Workshop Value Investment sendiri tidak bersifat satu arah. Para peserta dapat bertanya di sela-sela pemaparan yang disampaikan oleh Rivan. Materi workshop pun banyak mengupas study case di Indonesia. Para peserta juga dibagi per kelompok untuk mempelajari, menganalisa, dan menyimpulkan sebuah kasus.

Selain di Jakarta, rencananya worksop serupa juga akan digelar di Semarang (10 Februari 2018) dan Bali (3 Maret 2018).

Written by: Sebastian Atmodjo

Komentar