Fintech Jual Beli Emas Targetkan Kaum Milenial

    Fintech Jual Beli Emas picture

    DuniaFintech.com – Fintech jual beli emas atau perusahaan perdagangan emas berbasis aplikasi baru, Treasury, bekerja sama dengan perencana keuangan online Finansialku.com. Kerjasama ini untuk mempromosikan investasi emas di kalangan generasi milenial guna membantu mereka bersiap menghadapi situasi darurat.

    Kepala pengembangan brand Treasury, Narantara Sitepu mengatakan kedua perusahaan akan bersama-sama mengadakan roadshow di beberapa kota. Kota itu yakni di Jawa dan Sulawesi pada kuartal kedua tahun ini dalam upaya untuk menjelaskan pentingnya dana darurat di kalangan generasi milenial.

    Fintech Jual Beli Emas Solusi Situasi Darurat

     Narantara menambahkan bahwa banyak orang mengabaikan kebutuhan untuk menghemat uang dalam persiapan situasi darurat. Hal itu karena mereka cenderung mengadopsi perilaku konsumtif dan kurangnya pengetahuan keuangan.

    Baca juga: Fintech Lazismu Gandeng Gojek – Gopay

    “Treasury akan memfasilitasi akses mudah ke emas sebagai instrumen investasi dan Financialku.com akan memberikan akses ke pengetahuan keuangan,” kata Narantara.

    Pendiri dan CEO Financialku.com Melvin Mumpuni mengatakan perusahaannya akan mengintegrasikan layanan Treasury ke dalam aplikasi mereka pada kuartal ketiga tahun ini untuk menyediakan opsi investasi bagi para penggunanya.

    Emas Pilihan Investasi Menjanjikan

    Melvin juga menyatakan bahwa emas adalah pilihan investasi yang baik karena akan melindungi nilai inflasi. Tidak seperti instrumen lain, seperti deposito berjangka, yang akan membutuhkan waktu sebelum deposan dapat menarik uang mereka. Kolektor dapat dengan mudah mengubah emas mereka menjadi uang tunai di pegadaian selama situasi darurat.

    “Dengan perdagangan emas berbasis digital, akan lebih mudah bagi orang untuk berinvestasi dalam emas,” ungkap Melvin. “Saya mungkin tidak merekomendasikan emas untuk investasi jangka panjang, tetapi ini adalah instrumen yang direkomendasikan untuk memperoleh dana darurat.”

    Melvin menambahkan transaksi digital yang nyaman telah mendorong beberapa orang untuk menjadi konsumtif dan mengabaikan kebutuhan mereka untuk menghemat dana darurat, yang akan mereka butuhkan dalam situasi tak terduga seperti PHK atau kecelakaan.

    Baca juga: BitGo Rilis Token Keamanan Blockchain Capital BCAP

    Pernyataannya sejalan dengan laporan tahun 2017 oleh Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII), yang menemukan bahwa 64 persen pembeli online di Indonesia adalah kelompok milenial.

    Melvin mengklaim bahwa banyak milenium berusia antara 20 dan 40 hanya akan mengalokasikan 11 persen dari pendapatan mereka untuk tabungan dan 2 persen untuk investasi.

    Sebagai bagian dari kelompok produktif, ia menyarankan agar milenium menyisihkan dana darurat sama dengan setidaknya enam kali lipat dari pengeluaran bulanan mereka.

    “Ketika datang untuk menabung dalam bentuk dana darurat, kita harus mencari produk investasi yang aman, likuid dan mudah diakses,” katanya, mengutip emas sebagai contoh.

    Narantara mengatakan dari generasi ke generasi, orang Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengumpulkan emas untuk ditabung dan menjualnya selama situasi darurat.

    “Kami menawarkan cara yang lebih efektif untuk tetap menjadikan emas sebagai investasi dengan menggunakan aplikasi online,” katanya.

    Menurut Narantara, Treasury, yang didirikan pada November tahun lalu kini telah mengumpulkan 2.000 pengguna. Dia menambahkan bahwa perusahaannya optimis dapat mengumpulkan 100.000 pengguna baru tahun ini.

    Selain dari Treasury, banyak platform e-commerce lainnya juga menawarkan layanan perdagangan emas yang serupa, seperti EmasDigi berbasis aplikasi, IndoGold dan unicorn besar Bukalapak serta Tokopedia.

    -Dita Safitri-

     

    Komentar