Lawan Konten Deepfake, Twitter Meminta Tanggapan Publik

    Lawan Konten Deepfake
    Inline Adv

    DuniaFintech.com – Sebelumnya Facebook.inc mengadakan kompetisi untuk memerangi deepfake, kali ini platform media sosial twitter mengumumkan rencananya untuk lawan konten deepfake dan media yang dimanipulasi untuk menyebarkan hoaks. Deepfake sendiri adalah teknologi yang memanfaatkan AI yang memampukan video diedit sedemikian rupa agar terlihat sosok penting terlihat melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan.

    Menjelang pemilihan presiden AS pada November 2020, platform sosial media tengah di bawah tekanan untuk mengatasi ancaman yang dimanipulasi termasuk deepfake.

    Twitter sendiri rencananya akan lawan konten deepfake dengan menambahkan fitur pemberitahuan yang ada di sebelah tombol unggah. Fitur tersebut akan memberi tahu pengguna apakah konten yang akan mereka bagikan termasuk konten sintesis atau konten yang termanipulasi.

    Fitur ini juga akan menyediakan tautan yang berisi alasan mengapa berbagai sumber menilai konten yang dibagikan dikategorikan sebagai konten termanipulasi atau berasal dari media yang termanipulasi.

    Twitter juga akan menghapus unggahan yang bersifat misleading atau memberikan informasi tidak benar, mengancam keamanan, atau ajakan untuk melakukan hal hal berbahaya. Perusahaan pun meminta tanggapan dari pengguna tentang rencana itu. Twitter telah membuka masukan publik melalui survei dan tweet dengan tagar #TwitterPolicyFeedback hingga 27 November 2019.

    Baca Juga :

    Dilansir dari laman Reuters, Twitter mendefinisikan deepfake sebagai foto, audio, atau video apapun yang sudah secara signifikan diedit dan diproduksi secara massal dengan tujuan memberikan kabar bohong. Ini juga termasuk versi manual dari deepfake, yakni shallowfake.

    Penggunaan deepfake sendiri bukanlah hal baru. Tahun lalu, untuk lawan konten deepfake, Twitter memblokir sejumlah media yang menggunakan deepfakeDeepfake sendiri sebelumnya banyak digunakan untuk video atau foto yang mengandung konten seksual.

    Sampai saat ini, belum ada video deepfake yang dibuat dengan baik dengan topik utamanya mengandung unsur politik di Amerika Serikat. Pada bulan mei lalu potensi video yang dimanipulasi untuk menyebabkan kekacauan didemonstrasikan oleh video Ketua DPR Nancy Pelosi yang tengah berpidato dengan ucapan melambat dan tampak cadel.

    Pada bulan Juli, Ketua Komite Intelijen DPR AS Adam Schiff menulis surat kepada CEO Facebook, Twitter, dan GOOGLE Alphabet Inc. Google meminta perusahaan untuk merencanakan menangani ancaman gambar dan video deepfake menjelang pemilihan umum 2020.

    Bulan lalu, Amazon Inc (AMZN.O) Amazon Web Services (AWS) mengatakan akan bergabung dengan Facebook dan Microsoft Corp (MSFT.O) dalam “Deepfake Detection Challenge” mereka, sebuah kontes untuk memacu penelitian ke daerah tersebut.

    -Vidia Hapsari-

     

    Komentar
    Bottom Adv