MENGGALI POTENSI INVESTASI MELALUI PLATFORM PERTANIAN

    DuniaFintech.com – Pilihan investasi yang bisa diambil oleh masyarakat cukup beragam. Seiring perkembangan teknologi, pilihan investasi tersebut pun makin bervariasi. Salah satunya adalah di bidang pertanian.

    Peluang ini yang coba ditawarkan oleh sejumlah penyedia atau pengelola platform investasi di bidang pertanian–entah itu bentuknya berupa crowdlending, peer-to-peer (P2P) lending, crowdfunding atau lainnya. Topik berinvestasi di bidang pertanian ini dibahas dalam CEO Talks: Value Investing in Agriculture Crowdfunding di Sapori Deli Restaurant, Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (25/1/2018). DuniaFintech.com, yang menjadi salah satu media partner, turut hadir dalam event tersebut.

    CEO Talks: Value Investing in Agriculture Crowdfunding digagas oleh Bizcom. Acara ini menghadirkan dua pembicara utama. Mereka adalah Chairman & Co-Founder Tani Fund Pamitra Wineka dan CEO Vestifarm Dharma. Kegiatan ini juga dihadiri oleh pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengusaha, dan stakeholder lainnya.

    Baca juga: crowde-hadir-untuk-atasi-masalah-pendanaan-bagi-petani/

    Hadir pula, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Moeldoko yang memberikan opening speech. Dalam sambutannya, Moeldoko menyampaikan, ada lima pokok permasalahan yang dihadapi oleh petani di Indonesia. Pertama adalah tanah.

    Tanahnya sempit. Rata-rata, petani di Indonesia hanya memiliki tanah untuk digarap seluas 0,2–0,3 hektare. Belum lagi, sebagian tanah tersebut rusak, misalnya akibat penggunaan pestisida yang berlebihan,” ujar mantan Panglima TNI ini.

    Permasalahan kedua, lanjut Moeldoko, adalah capital atau akses terhadap modal yang terbatas. Permasalahan berikutnya terkait teknologi.

    Sebagian petani belum merespon perubahan dan kemajuan teknologi,” kata Moeldoko.

    Keempat, masalah manajerial. Para petani belum memiliki kemampuan manajerial yang baik. Padahal, kemampuan ini diperlukan di hampir seluruh proses bertani mereka. Permasalahan terakhir adalah pasar.

    Misalnya, pascapanen sebagian hasil pertanian bisa saja rusak. Ini turut mempengaruhi harga jual itu sendiri,” sambung Moeldoko.”

    Di penghujung sambutannya, Moeldoko menyampaikan, masih banyak potensi yang belum tergarap optimal di bidang pertanian. Moeldoko juga mengajak masyarakat, khususnya pelaku financial technology (fintech) di bidang pertanian, sering-sering terjun ke lapangan untuk mengetahui kondisi real yang dihadapi oleh para petani.

    Baca juga: mekar-salurkan-pembiayaan-petani-di-jawa-barat/

    Sementara itu, Dharma bercerita, awalnya ia mendirikan startup Vestifarm ialah saat ia mengunjungi sebuah desa di Sumedang, Jawa Barat. Saat itu, ia bertemu dengan seorang peternak sapi bernama Mang Yon Yon. Mang Yon Yon merupakan peternak sapi yang tersohor di desa itu. Dharma terkejut melihat tidak ada seekor sapi pun di kandang milik Mang Yon Yon. Dharma menanyakan hal ini kepada Mang Yon Yon. Mang Yon Yon mengisahkan kalau ia sudah tidak beternak sapi selama sembilan bulan karena keterbatasan modal.

    Sejak itulah, Dharma bertekad untuk menciptakan platform Vestifarm yang bisa membantu petani dan peternak. Vestifarm sendiri menerapkan konsep syariah terkait bagi hasil antara investor dan peminjam (petani atau peternak). Dalam konsep tersebut, Vestifarm membuat semacam kontrak bagi hasil kepada investor dan peminjam secara terpisah. Sampai sejauh ini, pendanaan yang telah disalurkan melalui Vestifarm tercatat sebesar Rp 9 miliar lebih.

    Untuk mitigasi risiko, Tim Vestifarm juga melakukan survei langsung ke lokasi calon peminjam. Meski begitu, Dharma meneruskan, risiko dalam berinvestasi di sektor pertanian tetap ada, misalnya akibat faktor cuaca. Terlebih, Vestifarm tidak menggunakan asuransi dalam skema investasi yang ditawarkannya. Oleh sebab itu, dalam kontrak kerjasama yang dibuat, Vestifarm memuat klausul-klausul secara detil.

    Baca juga: rego-pantes-hadir-untuk-menyejahterakan-petani/

    Permasalahan identik juga ditemui oleh Wineka dalam mengembangkan platform-nya, yakni Tani Fund. Ia berujar, sebenarnya sektor pertanian adalah penyumbang terbesar ke-2 Gross Domestic Product (GDP) Indonesia di tahun 2016. Meski begitu, masih banyak potensi yang belum tergali maksimal dari sektor ini. Lahan pertanian darat, misalnya, masih memiliki potensi sebanyak 14 juta hektare yang bisa digarap. Belum lagi untuk sektor yang berkaitan dengan kelautan. Usia para petani pun sebagian besar (61%) lebih dari 45 tahun. Hal ini menyiratkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian masih rendah.

    Selain itu, masalah rentenir juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk soal ini, Tani Fund melakukan pendekatan edukatif kepada rentenir yang ternyata juga sebagian adalah petani itu sendiri.

    Yang jelas, berinvestasi di sektor pertanian cukup menjanjikan. Apalagi bila diiringi dengan aspek sosial, seperti membantu meningkatkan kesejahteraan petani atau peternak.

    Written by: Sebastian Atmodjo

    Komentar