Korea Selatan Perangi Penipuan Makanan Halal dengan Blockchain

    makanan halal
    Inline Adv

    DuniaFintech.com – Sebagai negara dengan penduduk muslim minoritas, Korea Selatan masih mengalami banyak kesulitan terkait penyediaan makanan halal. Semakin banyaknya pemeluk Islam dan ramainya wisatawan muslim yang datang membuat pemerintah perlu melakukan langkah khusus untuk menjamin produk halal yang beredar memang benar-benar sudah sesuai standar.

    Namun kini, penduduk muslim boleh mulai berlega diri. Pasalnya, perusahaan telekomunikasi terbesar di Korea Selatan, KT  hari ini mengumumkan pada Rabu (9/10) bahwa mereka berencana akan mengembangkan platform Blockchain yang nantinya akan memastikan semua produk makanan halal memang sudah sesuai standar halal hukum Islam.

    Sistem Blockchain ini dibuat kemitraan dengan perusahaan Blockchain B-Square Lab dan Federasi Muslim Korea, akan mendaftarkan sertifikat untuk makanan halal di Blockchain. (“Square Ledger” dari B-Square Lab adalah platform Blockchain peningkatan aset digital berbasis Hyperledger, menurut situs webnya.) Setiap produk juga akan dipindai dengan kode QR yang mengonfirmasi bahwa produk makanan memang sudah terbukti halal di setiap langkah pasokan rantainya.

    Sertifikasi halal secara konvensional telah dilakukan dengan dokumentasi kertas atau dengan bekerja dengan pemasok tepercaya, tetapi sistem ini terbuka dan rentan menimbulkan penipuan. Peternak mungkin memalsukan dokumen atau memompa hewan yang penuh air dan obat penenang sebelum penymbelihan. Praktik ini akan menjadi jauh lebih sulit ketika Blockchain terdesentralisasi
    buku besar diperkenalkan.

    Sistem baru ini dalam waktu dekat akan memasuki pasar makanan halal di negara tersebut. Federasi Muslim Korea memperkirakan ada 1,9 miliar orang yang mengonsumsi makanan halal dan secara global, pasar itu bernilai sangat besar yakni $3,64 triliun.

    Baca juga:

    Bukan yang Pertama

    KT bukan yang pertama menerapkan sistem Blockchain untuk mencegah penipuan makanan halal. Tahun lalu, perusahaan rantai suplai Blockchain TE-Food bermitra dengan Halal Trail yang berbasis di Inggris untuk fokus membawa makanan halal ke meja umat Muslim di Inggris. TE-Food sudah menggunakan Blockchain untuk memproses lebih dari 18.000 ekor babi dan 200.000 ekor ayam setiap hari.

    Dan di luar pasar halal, banyak perusahaan lain menggunakan teknologi ini untuk memilah-milah sistem rantai pasokan makanan mereka sendiri. Platform seperti FoodLogiQ, IBM Food Trust, dan ripe.io semuanya bereksperimen dengan mendaftarkan makanan di Blockchain. Tidak mengherankan, mengingat bahwa rantai pasokan peternakan dan pasar rantai pasokan makanan halal akan mencapai $430 juta pada tahun 2023, menurut laporan dari ResearchandMarkets.com.

    -Dita Safitri-

    Komentar
    Bottom Adv