PERKEMBANGAN ICO DI INDONESIA DAN SINGAPURA

    DuniaFintech.com – Seiring dengan perkembangan industri startup di Indonesia, ICO alias Initial Coin Offerings juga semakin bergema kencang. Melalui ICO, banyak perusahaan-perusahaan rintisan yang berhasil sukses karena menerima pendanaan dari para investor.

    ICO sendiri pada dasarnya bekerja hampir mirip dengan IPO pada jual beli saham. Bedanya, jika dalam IPO para pemilik jelas memiliki saham pada perusahaan yang mereka danai sementara dalam ICO, investor hanya akan diberi keuntungan potongan yang akan dibagikan oleh perusahaan sebagai dividen (bagi hasil). Dengan konsep ini, banyak yang menyebut ICO sebagai salah satu bentuk crowdfunding (pendanaan massal).

    Baca juga: https://www.duniafintech.com/askrindo-optimis-mencapai-target-yang-fantastis/

    ICO di Indonesia

    Bagi para penggiat startup lama di Indonesia, ICO mungkin mulai terdengar familiar. Namun sampai akhir tahun lalu, masih sangat sedikit perusahaan perintis yang menggunakan cara ini untuk menghimpun dana. Blocktech misalnya, salah satu perusahaan Blockchain terbesar Indonesia baru mulai menggaungkan ICO pada September lalu dalam acara ICO World Tour.

    Steven Suhadi, Co-Founder Blocktech menyebut bahwa di tahun 2017 sejumlah startup dan perusahaan berhasil mengumpulkan dana sebanyak 1,4 miliar dolar melalui ICO. Sebuah jumlah yang cukup fantastis untuk perusahaan-perusahaan baru ini.

    Iklim fintech dan startup di tahun 2018 ini pun menurut para ahli masih sangat subur. Banyak investor luar yang mulai melirik startup karya anak bangsa. Beberapa contoh sukses yang layak menjadi contoh misalnya Gojek dan Tokopedia yang berhasil memperoleh pendanaan dari perusahaan global.

    Baca juga: https://www.duniafintech.com/3-alasan-kenapa-sekarang-adalah-saat-yang-tepat-untuk-membeli-bitcoin/

    Tokenomy, sebuah platform penjualan token baru-baru ini mengumumkan kerjasama dengan Waves berencana akan memperluas ICO di pasar Asia Tenggara. Waves mengatakan bahwa sebagai bagian dari inisiatif tersebut, kedua perusahaan baru saja menyelesaikan tahap akhir dari crowdfund senilai $ 20 juta – menjual 40.000 token untuk lebih dari $ 2 juta hanya dalam waktu tiga jam. Pendanaan tersebut akan memungkinkan integrasi Blockchain yang sesuai untuk perusahaan besar di kawasan ini, membuka pasar Asia Tenggara yang luas untuk platform token khusus. Hal ini sekaligus menjadi gambaran bagaimana ICO akan berkembang di Indonesia nantinya.

    Perkembangan ICO di Singapura

    Sebagai salah satu negara di Asia Tenggara, Singapura tentu akan masuk dalam target kerjasama Waves dengan Tokenomy. Dibandingkan Indonesia, iklim fintech di Singapura cenderung lebih ramah. Tak hanya tidak melakukan pelarangan terhadap Bitcoin dan mata uang lainnya, di sana ATM Bitcoin bahkan dipasang di tempat umum dan beberapa restoran dan kafe secara terbuka menerima kripto sebagai alat pembayaran.

    Baca juga: https://www.duniafintech.com/tidak-perlu-khawatir-para-investor-dunia-tetap-melirik-fintech-di-indonesia/

    Wakil Perdana Menteri Singapura bahkan menekankan bahwa pemerintah mereka tidak menemukan alasan pelarangan terhadap mata uang virtual. Beberapa perusahaan rintisan lokal pun terbuka dengan ICO. Sebut saja SpherePay yang baru-baru ini melakukan penawaran koin awal.

    Terlepas dari iklim yang sedikit berbeda antara Singapura dan Indonesia, Initial Coin Offerings bisa dipastikan masih akan terus berkembang. Apalagi jika didukung dengan pertumbuhan pesat industri startup di kedua negara.

    Written by: Dita Safitri

    Komentar