Tingkatkan Inklusi Keuangan, Perusahaan Fintech Jangkau Kalangan Pelajar

    Kalangan Pelajar picture

    DuniaFintech.com – Kemarin, beberapa perusahaan Financial Technology (Fintech) melakukan sosialisasi dan edukasi di hadapan puluhan mahasiswa yang ada di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia di kalangan pelajar.

    Fintech yang melakukan sosialisasi di kalangan pelajar tersebut di antaranya adalah Kredit Pintar, Aventee, Lumbung Dana, AdaKami, iKredo, Pinjam Yul, dan Telefin.

    Dalam acara “Fintech goes to campus”, AntaraNews mengutip perkataan Business Development Manager KreditPintar, Azalea Pasaribu:

    “Fintech hadir untuk mendorong jiwa kewirausahaan pada kalangan pelajar untuk memainkan peran dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.”

    Azalea pun menyebutkan bahwa kehadiran Kredit Pintar ialah untuk mengatasi kesenjangan kredit perbankan kepada masyarakat yang masih besar. Menurutnya, kebutuhan kredit mencapai Rp1.000 triliun. Hanya saja perbankan baru mampu menjangkau sebesar Rp600 triliun saja. Azalea pun menambahkan:

    “Penetrasi kredit baru tujuh persen. Oleh karena itu melalui Fintech ini kita hadir guna menyasar segmen yang belum tergarap tersebut, dengan kemudahan layanan dan keuntungan lainnya.”

    Azalea pun mengatakan bahwa data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) , Badan Pusat Statistik (BPS), dan United Nation Population Fund, jumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia pada 2018 sebanyak 58,97 juta orang. Sedangkan menurut data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mengatakan jumlah di Indonesia mencapai 59,2 juta.

    Data tersebut menyimpulkan bahwa tingginya minat masyarakat menjadi wirausaha dapat dilihat dari peningkatan UMKM tahun 2018 ke tahun 2019. Azalea juga mengungkapkan bahwa inilah alasan mengapa Kredit Pintar hadir sebagai Fintech yang akan mendorong jiwa kewirausahaan pada kalangan pelajar untuk memainkan perannya.

    Selain itu, ditengah maraknya penipuan online, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai penyedia jasa transaksi keuangan yang dapat merugikan masyarakat.

    Sebelumnya, seorang mahasiswa di Kota Banjar telah menjadi korban penipuan melalui salah satu penyedia jasa kredit, Akulaku, setelah diminta One Time Pasword (OTP) oleh pihak yang mengaku sebagai Customer Service (CS) Akulaku.

    Baca

    Ia mengalami kerugian sekitar Rp 645 ribu lantaran pada akunnya terdapat transaksi Kredit Tanpa Agunan (KTA) Kilat yang terakses tanpa seizin dan sepengetahuannya. Tak hanya itu, kejadian lain juga kerap menyasar masyarakat seperti melalui pinjaman online yang bunganya sangat tinggi, maupun penipuan pinjaman melalui koperasi abal-abal.

    Menurut Kepala OJK Tasikmalaya, Asep Ruswandi, akhir-akhir ini perkembangan Fintech sangat luar biasa sekali di Indonesia. Apalagi Fintech merupakan salah satu kegiatan keuangan yang bersumber dananya bukan dari masyarakat, melainkan dari investor. Jadi, wajar bila perkembangannya sangat pesat.

    Baca

    Kepada HarapanRakyat, Arif pun berpendapat soal kasus penipuan terhadap salah satu mahasiswa di Kota Banjar dengan menghimbau debitur atau pemilik akun penyedia jasa keuangan untuk memastikan yang melakukan komunikasi atau mengontak adalah benar-benar dari penyedia jasa tersebut, bukan ke yang lainnya. Sehingga, apabila ada yang meminta OTP dari oknum yang tidak bertanggungjawab dan diberikan, itu merupakan bagian dari kelalaian debitur.

    Bila kejadian tersebut menimpa salah satu debitur, maka harus diproses lebih lanjut. Namun, tegas Asep, jika itu merupakan kelalaian debitur di Fintech yang berada di bawah pengawasan OJK, itu akan sulit diproses.

    Berbeda jika berasal dari kelalaian penyedia atau karena penyedia keuangan tersebut memiliki kekurangan, maka akan bisa diproses oleh OJK agar debitur bisa mendapatkan haknya, ujar Asep.

    Baca

    picture: pixabay.com

    -Syofri Ardiyanto-

    Komentar