Sektor E-Commerce Melonjak 12 Kali Lipat di Tahun 2019

Sektor E-Commerce Melonjak 12 Kali Lipat
Inline Adv

DuniaFintech.com – Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menyatakan sektor e-commerce memang menjadi kontributor utama ekonomi digital Indonesia. Pertumbuhan di sektor e-commerce melonjak 12 kali lipat hingga tahun ini. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan pertumbuhan media online, transportasi online, wisata dan perjalanan, serta di sektor jasa keuangan digital.

Laporan e-Conomy SEA tahun ini, yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi internet paling cepat di Asia Tenggara. Pada sektor e-commerce di Indonesia akan mencapai US$82 miliar di tahun 2025 mendatang. Sejak 2015, sektor e-commerce melonjak 12 kali lipat menjadi US$21 miliar.

Kabid Humas idEA, Astrid Warsito menyebutkan saat ini pertumbuhan sektor e-commerce memang tinggi. Untuk kedepannya potensi pertumbuhannya pun akan sangat tinggi tidak hanya pada sektor ritel tetapi juga pada bussines to bussines (B2B).

Selain itu, e-commerce sudah menyalip online travel untuk menjadi sektor terbesar dalam ekonomi digital. Hanya dalam empat tahun, sektor e-commerce melonjak 12 kali lipat. Kenaikan jumlah e-commerce di Indonesia dipengaruhi berbagai macam alasan, salah satunya karena para konsumen diberikan sesuatu yang baru dan unik. Dimana selain dapat berbelanja online terdapat kemeriahan promo dengan unsur hiburan.

Menurut penelitian dari studi yang berjudul swipe up and to the right: Southeast Asia’s $100 bilion internet economy bahwa pada tahun 2019, Indonesia sendiri telah menyumbang lebih dari 50% untuk total e-commerce di seluruh negara Asia Tenggara. Hal ini juga sejalan dengan perubahan perilaku berbelanja konsumen yang semakin konsumtif. Kendati demikian, jumlah pemain di pasar domestikpun juga besar. Selain itu, penetrasi e-commerce juga tidak merata antara kota besar dan kota lainnya yang disebabkan oleh infrastruktur dan logistik.

Baca Juga :

Astrid menambahkan, saat ini para pelaku e-commerce perlu kebijakan yang mendukung, perlu adanya pendampingan yang menyeluruh karena semua bisnis sudah masuk ke ranah digital. Selain transfer teknologi, para pemain juga perlu mengembangkan bisnisnya.

Berdasarkan riset Google kontribusi wilayah Jabodetabek mencapai US$ 555 per kapita jauh lebih tinggi ketimbang area non metro yang hanya US$ 103 per kapita. Dengan pembenahan infrastruktur dan logistik, gap ini akan semakin menyempit antara kota besar dan kecil.

Hal ini merupakan peluang bagi Indonesia yang hanya 42 juta penduduknya yang memiliki rekening bank. Dengan 47 juta penduduk belum mendapatkan cukup layanan keuangan dan 92 juta penduduk sama sekali tidak memiliki akses, teknologi dan data dapat dimanfaatkan untuk mengubah cara orang Indonesia menangani pembayaran, transfer dana, pinjaman, investasi dan asuransi online.

-Vidia Hapsari-

Komentar
Bottom Adv