STARTUP BERKEMBANG DI ASIA TENGGARA

    Duniafintech.com-Para pengusaha dan perusahaan venture capital melihat wilayah Asia Tenggara sebagai wilayah yang menawarkan potensi dan peluang besar untuk berinvestasi.

    Elena Lonenko pendiri Turnkey Lender di Ukraina, negara asalnya, yang berfokus pada segmen software pinjaman P2P lending menjelaskan bahwa setelah melakukan analisis terhadap wilayah di dunia yang membutuhkan layanan Turnkey Lender, Asia Tenggara adalah yang paling besar kebutuhannya. Dimana sebagian besar orang-orang di wilayah itu tidak memiliki rekening bank.

    Selain itu sebuah aplikasi yang sukses diluncurkan oleh Finlab, yaitu program accelerators, yang berbasis di Singapura, membuat Lonenko melirik negara itu. Menurutnya, Singapura adalah titik pusat yang sempurna untuk menjangkau target pasar perusahaannya, yang meliputi Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Kamboja. Sekarang ini perusahaannya membuat kemajuan cukup baik, dimana pelanggan dari berbagai negara tersebut melakukan pembayaran dengan baik, ditambah kemitraan yang kuat dengan biro kredit lokal, yang akan membantu memperluas pangsa pasarnya dengan cepat pada tahun 2017.

    Pergerakan Turnkey Lender menunjukkan perkembangan startup di Asia. Salah satu yang menjadi tolak ukur perkembangan tersebut adalah negara Cina.

    Akhir bulan lalu Departemen Ilmu dan Teknologi di Cina mengatakan bahwa negaranya memiliki sebesar $131 miliar nilai startup pada akhir tahun 2016, dimana nilai itu meningkat hampir dua kali lipat dari angka tahun sebelumnya. Media Xinhua melaporkan bahwa investment Zhang Zhihong menggunakan istilah unicorn untuk menyebut sebuah perusahaan startup yang memiliki nilai pasar lebih dari $1 miliar. Unicorn di Cina tersebar di 16 kota, namun sebagian besar berada di Beijing, Shanghai, Shenzen, dan Hangzhou. Mayoritas mereka bergerak di bidang bisnis inovasi teknologi.

    Sementara menurut Amazon, yang menganalisis perusahaan Alexa, Amerika Serikat memiliki $138 miliar nilai startup yang sebagian besar terletak di San Fransisco, sedangkan India menduduki posisi ke empat di dunia dengan memiliki 7 startup unicorn. Tahun lalu ada 350 startup yang terdaftar di India, dan meningkat 25% dari tahun 2015.

    Paul Santos dari Wavemaker Partners mengatakan bahwa tahun 2016 adalah tahun terbaik dari tahun sebelumnya untuk perusahaan venture capital miliknya di Asia Tenggara. Akuisisi kerja aplikasi chat Pie adalah Google pertama di wilayah tersebut, dan jaringan periklanan mobile Art of Click yang berbasis di Singapura diakuisisi oleh perusahaan teknologi Filipina Xurpas.

    Senada dengan itu, Wong Ann Chai selaku Direktur dari startup Nanosun menjelaskan tahun 2016 merupakan tahun untuk melakukan merger secara intensif dan akuisi aktivitas dalam pendanaan banyak startup. Perusahaan di bidang internet adalah yang paling menarik. Grab atau Uber juga meningkat pesat.

    Salah satu alasan terbentuknya sarang kegiatan startup adalah peningkatan jumlah modal investasi, yang didorong oleh perusahaan-perusahaan AS melampaui Silicon Valley. Di Asia, pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kesadaran melek huruf dan pendidikan telah memotivasi banyak orang untuk memulai bisnis mereka sendiri. Tidak heran kemudian bahwa ekosistem startup, sebagian besar berkumpul di wilayah itu.

    Bali adalah salah satu lokasi berkembangnya startup. Dua startup Hubud dan Livit, menyediakan ruang coworking di pulau populer di Indonesia itu bagi para pengusaha yang ingin bertemu dengan orang-orang berpikiran terbuka, dan menemukan dukungan untuk usaha mereka. Bahkan pengusaha Australia Maire Shanahan pindah ke Bali empat tahun lalu, kemudian menjalankan dua bisnis e-commerce yang sukses, seperti Hubud.

    Sebagai contoh lain adalah WaveMaker Partners yang semula berbasis di AS, kemudian membuka kantor di Singapura, dan sekarang salah satu perusahaan venture capital-nya adalah yang paling aktif di Asia Tenggara. Begitu juga dengan Golden Gate Ventures, yang telah berinvestasi di lebih dari 30 perusahaan di seluruh Asia sejak tahun 2011. Pemain utama lainnya termasuk Sequoia Capital, IDG Ventures dan 500 Startups.

    Lalu ada accelerators, incubators, angel investors dan startup yang mendapat dukungan dari pemerintah. Di Cina, misalnya, dana ventura yang didukung oleh pemerintah mencapai sekitar 1,5 triliun yuan (senilai $218 miliar) pada tahun 2015. Di India, program Startup India telah diluncurkan tahun lalu untuk mendukung pengusaha, sementara pemerintah negara India, termasuk Karnataka dan Rajasthan telah menetapkan misi startup mereka sendiri.

    Diluncurkan pada akhir tahun lalu, Mekong Innovative Startup Tourism (MIST) didirikan yang bertujuan untuk mengkatalisasi pertumbuhan sektor pariwisata di Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam. MIST Market Access Accelerator mendukung perusahaan pada tahap awal dengan teknologi perjalanan dan rencana bisnis pariwisata tradisional. Di antara pendukungnya adalah Bank Pembangunan Asia dan Asosiasi Travel Asia Pasifik.

    Untuk venture capitalist berpengalaman yang mencari wadah untuk berinvestasi di startup di Asia, mereka harus menyadari perbedaan utama antara wilayah Asia dan Barat.

    Pertama, adanya keragaman. Asia memiliki beragam budaya, etnis dan praktek bisnis. Apa yang diterapkan di Silicon Valley mungkin tidak berlaku untuk startup di Ho Chi Minh City, misalnya. Tantangan lain terletak pada kenyataan bahwa Barat telah memiliki pemimpin startup. Lalu adanya faktor tenaga kerja. Startup di Asia cenderung didirikan dan dikelola oleh orang-orang di usia 40-an dan 50-an, yang memiliki uang dan pengalaman di wilayah yang belum dipetakan.

    Nanosun’s Wong mengatakan 2017 akan menjadi tahun yang baik untuk menanam saham.

    Kami mengantisipasi kenaikan suku bunga, yang biasanya tidak selalu hal yang baik. Secara keseluruhan, pendekatan multi-tahun diperlukan karena startup perlu 18 bulan sampai dua tahun untuk dapat membumi dan menggelinding bola.”

    Santos dari WaveMakers percaya bahwa startup di Asia Tenggara akan terus berkembang. Ia mengatakan bahwa:

    Kami sekarang memiliki sekitar 50 perusahaan portofolio di wilayah tersebut. Kami berharap untuk berinvestasi sekitar 15 sampai 20 perusahaan baru tahun ini.”

    Lebih lanjut ia mengatakan faktor ekonomi makro dan demografi membuatnya menarik.

    Tapi apa yang membuatnya bahkan lebih menarik bagi kita adalah bahwa Asia Tenggara wilayah yang terbuka untuk bisnis.”

    Sumber: http://www.nationmultimedia.com

    Picture: pixabay.com

    Komentar