TECHNOPRENEUR 2017: DI BALIK KESUKSESAN STARTUP FINTECH, CICIL

    DuniaFintech.com – Dalam Technopreneur 2017 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Unpad (20/5/2017), CICIL atau cicil.co.id merupakan startup yang memiliki sasaran pengguna langsung kelompok mahasiswa. Dipilih panitia sebagai salah satu pembicara, Edward Widjonarko, Co-Founder dan Director CICIL, dianggap memiliki prestasi tersendiri dalam hal pengelolaan startup fintech sehingga diyakini mampu memberikan motivasi yang kuat dalam Technopreneur kali ini.

    Pada saat ditemui DuniaFintech.com, Edward Widjonarko mengatakan bahwa startup yang berdiri pada bulan September 2016 ini didirikan berdasarkan riset terhadap kebutuhan mahasiswa yang cukup tinggi namun tidak memiliki akses yang baik terhadap pembiayaan atau kredit karena tidak memiliki gaji serta credit history. Sehingga dengan tujuan memberikan kemudahan pembiayaan bagi mahasiswa, CICIL didirikan sebagai bentuk pembiayaan mikro untuk menunjang kebutuhan perkuliahan, dengan margin dan interest yang tidak terlalu tinggi, serta analisis dan assessment yang tidak memakan waktu lama seperti pada proses pengajuan kredit konvensional.

    Untuk mengajukan kredit lewat CICIL, ada beberapa assessment yang akan dilakukan oleh tim CICIL, di antaranya capacity dan character sebagai poin utama. Beberapa aspek seperti biaya kost, biaya hidup, dan tuition fee dari mahasiswa menjadi bahan verifikasi yang prosesnya sendiri, dikatakan Edward, tidak lebih dari 3 hari, di mana jangka waktu tersebut termasuk cepat dibanding proses verifikasi pada kredit konvensional. Bahkan, Edward menambahkan, timnya berencana menyingkat proses verifikasi ini menjadi 1 hari melalui automasi dalam aplikasinya sehingga semakin memudahkan proses pengajuan kredit.

    Fasilitas kredit berupa produk

    Berbeda dengan fintech lain yang memberikan fasilitas kredit berupa uang tunai, CICIL memberikan kredit dengan cara membelikan barang yang dibutuhkan oleh mahasiswa tersebut, sehingga menghindarkan risiko penggunaan dana yang tidak sesuai peruntukkannya. Untuk produknya pun, menurut Edward, mereka membatasi jenis produknya hanya dalam lingkup yang berhubungan langsung dengan pendidikan mahasiswa tersebut, seperti laptop, ponsel, atau bahkan sepatu olahraga untuk mahasiswa di bidang olahraga, dan kamera untuk mahasiswa fotografi misalnya.

    Dalam mendapatkan produk yang dibutuhkan, CICIL terhubung dengan beberapa layanan e-commerce. Meski belum bekerjasama secara formal dengan beberapa e-commerce terkait produk yang diberikan dalam kreditnya, CICIL berupaya membantu e-commerce untuk melakukan penetrasi terhadap pangsa pasar mahasiswa, mengingat tingginya harga produk mereka yang sulit dijangkau mahasiswa. Untuk itu, CICIL menempatkan beberapa student ambassador di kampus-kampus untuk menjembatani mahasiswa dan perusahaan e-commerce yang sebelumnya tidak bisa menjual produknya ke pangsa pasar mahasiswa.

    Pentingnya feedback pengguna

    Edward mengatakan, pengguna cicil.co.id kini sudah mencapai ribuan mahasiswa, yang dinilai cukup pesat untuk sebuah startup yang belum setahun berdiri dan dengan dengan target user hanya dari kelompok tertentu. Meski begitu, sebagai sebuah early startup, pihaknya selalu mengupayakan perbaikan-perbaikan melalui release update reguler dan automasi pada seluruh proses di aplikasinya, dengan cara antara lain mendengarkan feedback dari pengguna dan mengembangkan produk atau fitur berdasarkan feedback tersebut.

    Untuk fitur selanjutnya, menurut Edward, CICIL berencana menerapkan layanan fasilitas kredit bantuan pembiayaan uang pangkal mahasiswa yang dirasa cukup mahal saat ini, dengan cara bekerjasama dengan beberapa universitas di Indonesia. Ditanya mengenai perkembangan fintech saat ini, menurut Edward kondisi sekarang cukup kondusif karena terdapat gap yang bisa diatasi oleh fintech, selain adanya dukungan yang cukup baik dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong pengembangan bisnis model keuangan ke arah yang positif.

    Untuk tantangan terbesar yang dihadapi saat ini dalam pengelolaan startup fintech, dikatakan Edward adalah rendahnya financial awareness dan financial literacy di kalangan mahasiswa. Ditambahkan Edward pula, hasil survey OJK sendiri menunjukkan hanya 28% saja mahasiswa yang memahami produk finansial sehingga perlu lebih banyak diadakan workshop tentang finansial untuk meningkatkan pengetahuan dan awareness tentang produk keuangan di kalangan mahasiswa. Edward pun menegaskan jika tujuan utama startupnya ini bukan hanya memberikan fasilitas pembiayaan tapi juga memastikan bahwa pengguna memiliki pemahaman yang baik terhadap produk finansial.

    Written by: Rosmy Sophia

    Komentar